Pengantar Direktur Festival

After every war
someone has to clean up.
Things won’t
straighten themselves up, after all.

Someone has to push the rubble
to the side of the road,
so the corpse-filled wagons
can pass.

 “The End and the Beginning”
Wisława Szymborska
Translated by Joanna Trzeciak

Setiap festival adalah sebuah perayaan. Tetapi, apa yang bisa kita rayakan dalam situasi rusaknya lingkungan akibat eksploitasi berlebihan, terampasnya ruang-ruang hidup masyarakat adat, genosida di luar nalar pada saudara-saudara kita di Palestina, terkoyaknya kesetaraan dalam hidup bermasyarakat, impunitas atas kekerasan brutal yang dilakukan negara, dan jebakan kapitalisme pada kaum pekerja?

Kita tidak bisa menyangkal bahwa kita hidup dalam situasi krisis kemanusiaan global. Pada saat yang sama, kita juga tidak bisa menolak bahwa sastra telah selalu menjadi apparatus yang bisa membantu penyembuhan krisis melalui pemrosesan emosi yang menumbuhkan empati dan resiliensi, serta menciptakan rasa kebersamaan sebagai sesama manusia. Melalui sastra, kita bisa menempatkan diri dalam perspektif beragam karakter dan beragam  budaya, yang memperdalam pemahaman kita tentang perjuangan orang lain dan menumbuhkan welas asih.

Sastra juga menawarkan bahasa untuk mengekspresikan pengalaman traumatis yang mungkin sulit diungkapkan, menemukan kata-kata yang dapat memberikan kelegaan, sekaligus rasa kepemilikan atas narasi kita sendiri. Dengan demikian, sastra membantu membangun lanskap emosional bersama yang bisa menegaskan pengalaman manusia yang universal dan memperkuat jaringan dukungan sosial.

Hal-hal tersebut di atas sangat penting untuk membangun kembali ikatan kolektif setelah krisis yang menyebabkan perpecahan, isolasi, atau kehancuran. Karena itu, dalam Jakarta International Literary Festival kali ini, tak ada yang lebih relevan untuk menjadi tema percakapan selain tentang Kemanusiaan, dan krisis global yang menderanya. “Tanah Air dalam Tubuh Kita” menyatakan dengan lantang perlawanan, pemberontakan, resiliensi, dan ketabahan atas terkoyaknya tanah air—yang adalah tubuh manusia sendiri—melalui sastra. Jakarta International Literary Festival kali ini memang bukan tentang “perayaan”, melainkan seruan solidaritas yang menguatkan dan memberi harapan.

Seperti dalam puisi Wisława Szymborska, mungkin sastra adalah “seseorang” yang harus membersihkan puing, terjerumus ke dalam kotoran dan debu, memasang dinding dan pintu dan jendela, membangun jembatan dan stasiun, untuk memberi jalan pada generasi baru agar bisa berjalan maju sambil tetap menyimpan memori dan sejarah. Sastra adalah “seseorang” yang— setelah semua selesai dan sembuh— telentang di rerumputan, dengan sebilah rumput di mulutnya, menatap awan.

Mari menggemakan “Tanah Air dalam Tubuh Kita” di dalam kepala, dan menjadi bagian dari gerakan solidaritas kemanusiaan di Jakarta International Literary Festival 2025.