Pengantar Komite Sastra

Fadjriah Nurdiarsih
Ketua Komite Sastra
Dewan Kesenian Jakarta
Jakarta International Literary Festival (JILF) dirancang sebagai jembatan antara sastra dunia dengan para penulis, pembaca, penerbit, dan penikmat sastra di Jakarta. Sejak pertama kali diselenggarakan, JILF telah menjadi ruang pertemuan lintas bahasa, budaya, dan gagasan. Tahun 2025 menandai penyelenggaraan kelima festival ini.
Pada 2024, JILF mengusung tema F/Acta: Words and Actions Aligned on Eco-Literature, yang berangkat dari kesadaran atas krisis multidimensional akibat eksploitasi alam dan perebutan sumber daya. Melalui tema itu, JILF menegaskan peran sastra sebagai medium refleksi, penyampai gagasan, dan penggerak tindakan. Tahun ini, tema Homeland in Our Bodies memperluas pandangan tersebut dengan mempertanyakan kembali kemanusiaan dan batas-batas tanah air, sekaligus mengangkat suara mereka yang terpinggirkan.
Dalam setiap penyelenggaraannya, JILF berupaya menghadirkan isu-isu aktual dan pemikiran para sastrawan terkemuka. Adania Shibli, pembicara kunci JILF 2019, dan Hiromi Kawakami, pembicara kunci JILF 2024, adalah di antara nama-nama yang menghadirkan pandangan kritis tentang bagaimana sastrawan merespons persoalan sosial dan trauma kolektif.
Sebagai jembatan antara sastra Indonesia dan dunia internasional, JILF mempertemukan penulis, penerjemah, akademisi, dan pembaca dari berbagai negara untuk berdialog, berbagi pengalaman, serta menjalin kolaborasi. Pertemuan lintas budaya ini memperkaya perspektif dan membuka peluang kerja sama dalam penerjemahan, diskusi, maupun publikasi bersama, mendorong sastra Indonesia agar lebih dikenal dan diapresiasi di tingkat global.
Melalui JILF, Jakarta turut memperkuat posisinya sebagai kota global dan UNESCO City of Literature. Gelar ini bukan sekadar simbol, melainkan komitmen nyata untuk membangun kolaborasi dan program yang berkelanjutan. Dalam semangat itu, JILF menjadi jejaring lintas budaya sekaligus wadah pembinaan dan pemberdayaan komunitas sastra nasional.
Setiap tahun, JILF melibatkan komunitas sastra untuk berpameran dan memberi ruang bagi penulis baru berbicara tentang karya mereka. Tahun ini lebih istimewa karena Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta mengundang para siswa yang tergabung dalam program Sastra Masuk Sekolah (SMS) untuk turut hadir dan menyaksikan berbagai program festival. Enam sekolah dari enam belas sekolah sasaran SMS di Jakarta berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Komite Sastra berkomitmen menjadikan JILF sebagai festival yang membanggakan, reflektif, dan berperan sebagai sarana diplomasi budaya. Kami berharap JILF terus tumbuh, memiliki posisi yang kuat di antara festival sastra dunia, dan mempertegas peran Jakarta sebagai pusat kebudayaan global. Dengan demikian, JILF menjadi ruang bagi sastra Indonesia untuk lebih menggaung di dunia internasional.



